Sabtu, 06 Februari 2016


Nama         : Mutia Rahmi

Nim           :261324557

Unit           :1(satu)

 

PENGGUNAAN PETA KONSEP UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP KONSEP PADA MATERI RELASI DAN FUNGSI

A.       Latar Belakang

        Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang memiliki peranan penting bagi kemajuan teknologi dewasa ini. Oleh sebab itu, matematika perlu dipelajari siswa sejak dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Sebagai suatu ilmu pengetahuan matematika bertujuan melatih manusia berfikir logis, kritis, dan bertanggung jawab. Memandang arti penting matematika maka sudah selayaknya jika setiap siswa harus memiliki kemampuan untuk menguasai matematika.

        Matematika sering dipandang sebagai alat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Oleh karena itu penguasaan terhadap konsep matematika mutlak diperlukan dan konsep-konsep matematika harus dipahami dengan betul dan benar sejak dini. Hal ini karena konsep-konsep dalam matematika merupakan suatu rangkaian sebab akibat. Suatu konsep disusun berdasarkan konse-konsep sebelumnya, dan akan menjadi dasar bagi konsep-konsep selanjutnya, sehingga pemahaman yang salah terhadap suatu konsep, akan berakibat pada kesalahan pemahaman terhadap konsep-konsep selanjutnya.[1] Oleh karena itu pemahaman konsep dasar sangat diperlukan sebelum berlanjut ke konsep berikutnya.

        Selama ini matematika yang diajarkan di sekolah-sekolah lebih mengedepankan terori-teori yang kadang sulit untuk diaplikasikan oleh siswa dalam kehidupan nyata. Pada umunya siswa hanya mampu menyelesaikan masalah matematika saja tanpa memhami aplikasinya. Akibatnya, siswa sulit memahami matematika.[2] Hal ini terjadi karena karena siswa kurang memhami konsep dalam matematika. Oleh karenanya Penekanan utama pembelajaran matematika yang baik adalah bagaimana agar siswa mengerti atau memahami konsep matemtika dengan baik.

        Sebuah pembelajaran melalui Peta Konsep ditawarkan sebagai salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep siswa. Peta konsep merupakan ilustrsi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan dengan konsep-konsep lain pada katgori yang sama.[3] Dengan kata yang lain, peta konsep merupakan suatu gambar, skema atau bagan yang tersusun atas konsep-konsep yang berkaitan. Konteks Peta Konsep dalam pejaran matematika berarti menorganisir suatu rumus dengan rumus yang lain. Penjelasan materi melalui peta konsep akan memudahkan siswa dalam memahami materi karena disajikan secara sistematis berdasarkan aturan-aturan konsep tertentu. Dengan mengenal konsep dan memahami materi siswa akan mudah mengenali variasi detil dari konsep tersebut, sehingga memudahkannya mengkategorisasi pengetahuan serta siswa dapat termotivasi untuk belajar. Dengan demikian, diharapakan hasil belajar siswa lebih meningkat.

        Menurut Dahar, Peta Konsep (Consept Mapping) memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Belajar bermakna adalah suatu proses belajar di mana siswa dapat menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Jadi supaya belajar bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa. Novak dan Govin mngemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajr bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.[4]

        Berdasarkan latar belakng di atas, maka penulis mencoba menerapkan peta konsep untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep trigonometri.

B.        Rumusan Masalah

        Berdasarkan permasalah di atas maka penulis dapat merumuskan permasalahn sebagai berikut: “bagaimana penggunaan peta konsep untuk meningkatkan pemahaman terhadap konsep pada materi relasi dan fungsi?

        Berasrkan rumusan masalah di atas, maka diperoleh pertanyaan penelitiannya sebagai berikut?

1.      Bagaimana aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dengan menggunakan peta konsep pada relasi dan fungsi?

2.      Bagaiman respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan peta konsep pada materi relasi dan fungsi?

3.      Bagaimana hasil belajar siswa pada materi relasi dan fungsi dengan menggunakan peta konsep?

C.        Tujuan penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1.      Untuk mengetahui aktivitas siswa materi relasi dan fungsi selama mengikuti pembelajaran dengan menggunakan peta konsep.

2.      Untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan peta konsep pada materi relasi dan fungsi.

3.      Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa yang dicapai dengan menggunakan peta konsep pada materi relasi dan fungsi.

D.       Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah:

1.      Membantu siswa dalam memahami materi relasi dan fungsi dan dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan relasi dan fungsi.

2.      Bagi peniliti, diharapkan dapat memahami dan memiliki kemampuan yang luas tentang metode/strategi pembelajaran khuusnya peta konsep sehingga memiliki keterampilan untuk menerapkannya.

 E.        Definisi Operasional

1.      Pengunaan

Penggunaan adalah perbuatan dalam mempergunakan sesuatu.[5] Penggunaan yang

dimaksudkan dalam penelitian ini adalah menggunakan peta konsep pada materi relasi dan fungsi.

2.      Peta konsep

        Menurut suparno, peta konsep merupakan suatu bagan stematik untuk menggambarkan suatu pengertin konseptual seseorang dalam suatu rangkaian pernyataan. Pada peneliti ini, peneliti akan membahas peta konsep pada materi relasi dan fungsi.

3.      Meningkatkan

      Meningkatkan adalah menaikkan derajat atau taraf. Dalam penelitian ini yang menaikkan yang dimaksud adalah meningkatkan pemahaman konsep relasi dan fungsi.[6]

4.      Pemahaman Konsep

        Pemahaman konsep adalah kemampuan siswa dalam menerjemahkan, menafsirkan dan menyimpulkan suatu konsep berdasarkan pembentukan

pengetahuannya sendiri, bukan sekedar menghafal, selain itu siswa dapat menemukan dan menjelaskan kaitan suatu konsep dengan konsep lainnya.
 5.      Relasi dan fungsi

 Relasi

Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah hubungan yang memasangkan anggota-anggota himpunan A dengan anggota-anggota himpunan B.

fungsi

Fungsi f dari A ke B adalah suatu aturan pengaitan yang memasangkan setiap anggota himpunan A dengan tepat satu anggota himpunan B. pada penelitian ini yang menjadi sub materi adalah konsep relasi dan fungsi

F.         Hipotesis

        Berdasarkan permasalahan di atas maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

Ho : µ1 = µ2  hasil belajar siswa dengan penggunaan peta konsep pada materi relasi dan fungsi tidak lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan peta konsep

H1 : µ1 > µ2  hasil belajar siswa dengan penggunaan peta konsep pada materi relasi dan fungsi lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan peta konsep

            

Bab 11

Pembahasan

A.       Peta konsep

1.         Pengertian peta konsep

        Peta konsep merupakan suatu alat (dapat berupa skema) yang digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan hubungan dua konsep atau lebih yang dihubungkan oleh tanda penghubung dalam bentuknya yang paling sederhana, suatu peta konsep terdiri atas dua konsep yang dihubungkan oleh tanda penghubung untuk membentuk suatu proposisi.[7] Menurut Suparno, peta konsep merupakan suatu bagan sistematik untuk menggambarkan suatu pengertian konseptual seseorang dalam suatu rangkaian pernyataan.[8] Oleh kerena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung bila konsep-konsep baru dikaitkan pada konsep yang lebih ingklusif. Sedangkan menurut Trianto, peta konsep adalah ilustrasi konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan pada di hubungkan pada konsep-konsep yang lain pada kategori yang sama.[9] Peta konsep bukan hanya menggambarkan konsep-konsep yang penting, melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep. Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dapat digunakan dua prinsip yaitu prinsip diferensiasi progresif dan prinsip penyesuaian integrasif.

        Menurut ausubel diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari yang mudah dipahami ke materi yang lebih sulit dipahami. Sedangkan penyesuian integrasif adalah suatu prinsip mengintegrasikan informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari sebelumnya.

2.         Ciri-ciri peta konsep

Sebagaimana strategi-strategi atau metode-metode lain, peta konsep juga memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu,

a.       Peta konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposi-proposi suatu bidang studi.

b.      Peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi.

c.       Memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.

d.      Hirarki, yaitu konsep yang lebih ingklusih berada pada bagian yang paling atas dari peta, makin ke bawah konsep diurutkan makin menjadi lebih krusus.[10]

3.         Tujuan peta konsep

Tujuan penggunaan peta konsep dalam proses pembelajaran, yaitu:

a.       Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa.

b.      Membantu siswa mempelajari cara belajar bermakna.

c.       Mengungkapkan konsepsi salah (misconsepsi) yang terjadi apada siswa.

d.      Sebagai alat penilaian (evaluasi).

 
4.      Kelebihan dan kekurangan peta konsep

a.       Kelebihan peta konsep

Peta konsep dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat yang beragam, terutama, manfaat peta konsep tersebut adalah:
1)      Dapat meningkatkan pemahaman siswa, karena peta konsep merupakan cara belajar yang mengembangkan proses belajar bermakna,
2)      Dapat meningkatkan keattifan dan kreatifitas berfikir siswa,
3)      Akan memudahkan siswa dalam belajar.

b.      Kelemahan peta konsep

Beberapa kelemahan atau hambatan yang mungkin dialami siswa dalam menyusun peta konsep, yaitu:
1)      Dalam menyusun peta konsep membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan waktu yang tersedia dalam kelas sangat terbatas.
2)      Siswa sulit menentukan konsep-konsep yang terdapat dalam materi yang dipelajari.
3)      Siswa sulit menghubungkan konsep yang satu dengan konsep yang lain.[11]

5.      Cara membuat peta konsep
        Penyusunan peta konsep merupakan pencerminan dari struktur konseptual yang dimiliki oleh seseorang. Oleh sebab itu peta konsep yang dibuat oleh seseorang dengan orang lain. Hal ini mungkin disebabkan oleh cara pandangannya tentang suatu konsep yang berbeda sehingga dalam penyusunan peta konsep berbeda. Menyusun peta konsep dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah yang disarankan oleh Novak sebagai berikut:

a.       Pilih suatu bahan bacaan,

b.      Tentukan konsep utama,

c.       Urutkan konsep-konsep tersebut dari yang paling esklusif ke paling inklusif,

d.      Hubungkan konsep-konsep tersbeut dengan kata penghubung tertentu untuk membentuk proposisi,

e.       Jika peta konsp sudah selesai, perhatikan kembali letak konsep-konsepnya dan kalau perlu siperbaiki/ disusun kembali agar menjadi lebih baik dan berarti.[12]

B.     Pemahaman Konsep
        Pemahaman berasal dari kata dasar “paham” yang berarti mengerti benar. Pemahaman mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pengetahuan. Kemampuan pemahaman (komprehention) adalah kemampuan yang menuntut siswa agar mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya.[13] Pemahaman dapat pula diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi bahan yang dipelajari. pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta akan tetapi  berkenaan dengan kemampuan , menerangkan, menafsirkan, atau kemampuan menangkap makna arti sebuah konsep.[14] seseorang dapat dikatakan faham terhadap suatu hal apabila orang tersebut mengerti benar dan mampu menjelaskan suatu hal yang difahaminya.

        Matematika merupakan bagian dari bidang sains, yang menuntut kompetensi belajar pada ranah pemahaman. Benjamin S. Bloom menyatakan bahwa hasil belajar terbagi dalam tiga ranah yaitu: ranah kognitif, ranah efektif, dan ranah psikomotor.[15] Hasil belajar dalam ranah kognitif yang salah satunya yaitu pemahaman konsep. kemampuan pemahaman terhadap konsep matematika merupakan bagian yang penting dalam proses pembelajaran dan memcahakan konsep matematika menjadi landasan untuk berfikir dalam menyelesaikan persoalan matematika.

        Proses pembelajaran yang bermutu dan berkualitas ditandai dengan hasil belajar yang tinggi, sehingga menuntut kemampuan pemahaman konsep matematika yang baik. Menurut Syaipul konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga melahairkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum dan teori.[16] Kegunaan konsep untuk menjelaskan dan meramalkan. Jadi pemahaman konsep matematika adalah kemampuan untuk menjelaskan suatu situasi atau tindakan dalam matematika.

        Pemahamn konsep adalah salah satu tujuan yang sangat mendasar dari proses belajar siswa. Dalm peraturan menteri pendidikan Nasional RI nomor 22 tahun 2006, dijelaskan bahwa tujuan pembelajaran matematika disekolah adalah agar siswa memiliki kemampuan diantaranya adalah memahammi konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luas, akuarat efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.[17] Jadi pemahaman konsep matematika haruslah dimiliki oleh setiap siswa karena merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika.

        Pemahaman konsep matematika adalah kemampuan siswa dalam menerjemahkan, menafsirkan dan menyimpulkan suatu konsep matematika berdasarkan pembentukan pengetahuannya sendiri, bukan sekedar menghafal. Selain itu siswa dapat menemukan dan menjelaskan kaitan suatu konsep dengan konsep lainnya.

C.     Tinjauan materi relasi dan fungsi

1.      Definisi relasi
Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah hubungan yang memasangkan anggota-anggota himpunan A dengan anggota-anggota himpunan B.

Relasi dapat dinyatakan dengan:
 ·          Diagram panah
·          Diagram cartesius
·          Pasangan berurutan
 contoh :
Pengambilan data mengenai “pelajaran yang disukai” pada empat siswa kelas x diperoleh seperti pada tabel berikut:


Penyelesaian dengan diagram panah :


 
 Penyelesaian dengan diagram cartesius
 
 
 

Penyelesaian dengan himpunan pasangan berurutan

Himpunan pasangan berurutan dari data di atas adalah

{(Buyung, IPS), (Buyung, kesenian), (Doni, keterampilan), (Doni, olahraga), (Vita, IPA), (Putri, matematika), (Putri, bahasa Inggris)}.

2.      Sifat-sifat relasi

a.          Relasi bersifat Refleksif

Misalkan R sebuah relasi yang didefinisikan pada himpunan P. relasi R dikatakan berifat reflektif jika untuk setiap p P berlaku  (p, p) R.

 Contoh :

Diketahui R relasi pada himpunan A = {1,2,3,4}, dan dinyatakan dengan pasangan terurut: R = {(1,1), (1,2), (1,3), (2,1), (2,2), (2,3), (3,1), (3,2), (3,3),(1,4),(2,4),(3,4)}. Dari relasi ini diperoleh bahwa:

      Domain          R adalah: {1, 2, 3} dan range R adalah:  {1, 2, 3, 4}.

      1 domain R berpasangan dengan dirinya sendiri atau 1 berpasangan dengan 1. Pasangan terurut  (1,1) R.

      2 domain R berpasangan dengan dirinya sendiri atau 2 berpasangan dengan 2. Pasangan terurut  (2,2)      R.

      3 domain R berpasangan dengan dirinya sendiri atau 3 berpasangan dengan 3. Pasangan terurut  (3,3)      R. Karena seluruh domain R berpasangan dengan dirinya sendiri, maka relasi R bersifat refleksif

b.         Relasi Bersifat Simetris

Misalkan R sebuah relasi pada himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat simetris, apabila untuk setiap  (x, y) R berlaku (y, x) R.

Contoh:

Diberikan himpunan P = {1, 2, 3}. Didefinisikan relasi    R pada himpunan P dengan R = {(1,1) , (1,2), (1,3), (2,2), (2,1), (3,1), (3,3)}. Relasi R bersifat simetris sebab untuk setiap (x,y)     R, berlaku (y,x) R.

c.          Relasi Bersifat Transitif

Misalkan R sebuah relasi pada himpunan P. Relasi R bersifat transitif apabila untuk setiap (x,y) R dan (y,z) R maka berlaku berlaku  (x,z) R.

 Contoh :

Diberikan himpunan p = {1, 2, 3}. Didefinisikan relasi   pada himpunan P dengan  hasil relasi adalah himpunan  R = {(1,1), (1,2), (2,2), (2,1), (3,3)}. Relasi R tersebut bersifat  transitif sebab (x,y) R dan          (y,z)            R  maka berlaku  (x,z) R.

d.         Relasi Bersifat Antisimetris

Misalkan R sebuah relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat antisimetris, apabila untuk setiap (x,y) R dan          (y,x) R berlaku x = y.

Contoh :

Diberikan himpunan C = {2,4,5}. Didefinisikan relasi R pada himpunan C dengan R = { (a,b) a kelipatan b, a,b C} sehingga diperoleh R = {(2,2), (4,4), (5,5), (4,2)}. Relasi R tersebut bersifat antisimetris.

 
Definisi
Misalkan R sebuah relasi pada himpunan P. Relasi R dikatakan relasi ekivalensi jika dan hanya jika relasi R memenuhi sifat reflektif, simetris, dan  transitif.

 
Contoh                                                                                                                       

Diberikan himpunan P      = {1, 2, 3}. Didefinisikan relasi  pada himpunan P dengan  R = {(1,1), (1,2), (2,2), (2,1), (3,3)}. Relasi R tersebut bersifat reflektif,  simetris dan transitif. Oleh karena itu relasi R merupakan relasi ekivalensi.

 

2.       Definisi Fungsi Atau Pemetaan

Misalkan A dan B himpunan. Fungsi f dari A ke B adalah suatu aturan pengaitan yang memasangkan setiap anggota himpunan A dengan tepat satu anggota himpunan B.

Contoh

Berdasarkan dibawah, setiap anak anggota P dipasangkan dengan tepat satu  golongan daerah anggota Q. Bentuk relasi seperti ini disebut  Fungsi atau Pemetaan






Notasi Fungsi

      

 
 
Diagram di atas menggambarkan fungsi yang memetakan x anggota himpunan A ke y anggota himpunan B. Notasi fungsinya dapat ditulis sebagai berikut :

¢  f : x   y atau f : x    

¢  dibaca: fungsi f memetakan x anggota A ke y anggota B

¢  Himpunan A disebut domain (daerah asal).

¢  Himpunan B disebut kodomain (daerah kawan).

¢  Himpunan C   B yang memuat y disebut range (daerah hasil).[18]

   contoh peta konsep relasi dan fungsi

 
 
                                        



 




Relasi

Fungsi



 
BAB III

METODELOGI PENELITIAN

A.    Rancangan penelitian

Setiap penelitia memerlukan metode penelitian dan teknik pengumpulan data tertentu sesuai dengan masalah yang akan ditelti. Maka rancangan yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Dalam rancangan penelitian ini ada dua kelompok objek, yaitu kelas eskperimen dan kelas control. Selanjutnya, pada kelas eksperimen diajarkan dengan menggunakan peta konsep sedangkan untuk kelas control diajarkan tanpa menggunakan peta konsep.

Subjek
Pre-test
Perlakuan
Post-test
Kelas eksperimen
Xe
A
Ye
Kelas kontrol
Xk
B
Yk

 

Keterangan:

Xe  = skor pre-test untuk kelas eksperimen

Xk  = skor pre-test untuk kelas kontrol

Ye  = skor post-test untuk kelas eksperimen

Yk  = skor post-test untuk kelas kontrol

A   = pembelajaran dengan menggunakan peta konsep

B   = pembelajaran dengan tanpa menggunakan peta konsep
  B.     Populasi dan sampel

        Populasi adalah kesuluruhan objek penelitian. Sedangkan sampel adalah sebagian populasi yang diteliti.[19] Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas X Favorite School yang berjumlah 120 siswa, yang terdiri dari 3 kelas parallel yaitu kelas XA, XB, XC, XD. untuk memperoleh keterangan tentang populasi, penulis tidak mengamati seluruh populasi melainkan sebagian saja sebagai sampel penelitian.

        Oleh sebab itu, dilakukan pengambilan sampel secara random dan terpilih kelas XA yang berjumlah 30 orang sebagai kelas eksperimen dan kelas XC yang berjumlah 30 orang sebagai kelas control.
C.     Instrument Penelitian

        Instrument yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu berupa rancana pelaksanaan pembelajaran (RPP), LKS, soal tes, angket dan. Untuk soal tes penulis berpodoman pada buku kelas X.
 
  D.    Teknik Pengumpulan Data

1.      tes

        Tes yaitu sejumlah soal penulis buat sesuai dengan kurikulum dan buku yang dijadikan sebagai data tertulis. Dalam hal ini digunakan LKS sebagai latihan kepada siswa dan test yang digunakan adalah pre-test (tes awal) dan pos-test (tes akhir). Jumlah soal untuk LKS berjumlah 4 (empat), untuk test awal berjumlah 3 (tiga) soal dan untuk test akhir berjumlah 5 (lima). Tes awal diberikan sebelum berlangsungnya pembelajaran yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimilii siswa sebelum adanya perlakuan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas control berdasarkan materi relasi dan fungsi. Tes akhir diberikan setelah pembelajaran berlangsung yang bertujuan melihat perbandingan antara skor tes akhir pada kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.

2.      Angket

        Angket diberikan kepada siswa kelas eksperimen pada hari terakhir penelitian setelah berlangsung pembelajaran seluruhnya, dengan tujuan untuk memperoleh informasi/masukan dari para siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan peta konsep.

E.     Teknik Analisis Data

Tahap analisis data meruapakan tahap yang paling penting dalam suatu penelitian, karena pada tahap ini akan dideskripsikan hasil dari penelitian. Jika data tersebut dalam bentuk kuantiataif yan ditransfer dalam angka maka cara mendeskripsikan data dapat dilakukan dengan mengunakan statistik dskriptif. Menguji hipotesi yangdirumuskan, yaitu tentang penggunaan peta konsep untuk meninggkatkan pemahaman siswa terhadap materi geometri dapa dilakukan dengan statistic uji-t.

 1.      Analisis data tes
       Setelah keseluruhan data terkumpul, maka tahap selanjutnya dalah pengolahan data. Tahap pengolahan data sangat penting dalam suatu peneltian, karena pada tahap ini peneliti dapat merumuskan hasil penelitiannya. Adapun data yang diolah untuk penelitian ini adalah data post-tes. Data tersebut diuji dengan menggunakan ui-t pada taraf signifikan α = 0,05. Statistic yang diperlukan sehubungan dengan uji-t dilakukan secara sebagai berikut:

a.       Tentukan rentang (R) adalah data terbesar dikurangi data terkecil.

b.      Tentukan banyak kelas interval dengan mengunakan aturan strurges yaitu

K = 1+3,33 log n, dimana n menyatakan banyak data.

c.       Tentukan panjang kelas interval (p)

           Setelah membuat table frekuensi, selanjutnya di hitung:

d.      Rata-rata dengan rumus:[20]

X =

e.       Uji normlitas data dengan menggunakan rumu

               X2

f.       Untuk pengujian homogen varians

F

g.      Simpangan baku dengan menggunakan rumus:

S2 =

h.      Untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan yaitu dengan menggunakan statistic uji-t, digunakan rumus sebagai berikut:

t =

dengan

s2 =

keterangan:

x1 = mean kelompok eskperimen

x2 = mean kelompok kontrol

n1 = jumlah subjek kelompok eksperimen

n2 = jumlah subjek kelompok kontrol

2.      Data pre-test

Statistic yang diperlukan sehubungan dengan uji-t dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a.       Tentukan rentang (R) adalah data terbesar dikurangi data terkecil.

b.      Tentukan banyak kelas interval dengan menggunakan aturan sturges yaitu k = 1 + 3,33 log n, dimana n menyatakan banyak data.

c.       Tentukan panjang kelas interval (p)

            Setelah membuat table frekuensi, selanjutnya di hitung:

            Rata-rata dengan rumus:

X =

d.      Simpangan baku dengan menggunakan rumus:

S2 =

3.      Data post-test

        Sebelum menguji hipotesis penelitian terlebih dahulu dilakukan pengolahan data post-test untuk memperoleh nilai-nilai statistik yang diperlukan seperti rata-rata dan standar deviasi. Selajutnya diuji syarat-syarat dari uji-t yaitu homogenitas varians dan normalitas data.

        Statistic yang diperlukan sehubungan dengan penggunaan uji-t dari data post-test yaitu:

t =

untuk statistic uji-t di atas menggunakan taraf signifikan α = 0,05 dengan derajat kebebasan (dk) = (n1+n2 -2). Kriteria pengujian adaah terima Ho jika t < t 1-α dan tolak Ho jika t mempunyai harga-harga lain.[21]

Ho : µ1 = µ2 penggunaan peta konsep pada materi relasi dan fungsi tidak lebih baik dibandingkan dengan tidak menggunakan peta konsep

Ho : µ1 > µ2 penggunaan peta konsep pada materi relasi dan fungsi lebih baik dibandingkan dengan tidak menggunakan peta konsep

4.      Data respon siswa

Untuk menentukan respon siswa akan dianalisis dengan menghitung rata-rata keseluruhan skor yang telah dibuat dengan model skala Likert. Dalam menskor skala kategori Likert, jawaban diberi bobot atau disamakan denga nilai kuantitatif 4,3,2,1 untuk pertanyaan positif dan 1,2,3,4 untuk pertanyaan bersifat negatife.[22] Kuisioner untuk pertanyaan positif maka diberi skor 4 untuk pertanyaan sangat, 3 untuk menyatakan biasa saja, 2 untuk pernyataan sedikit dan 1 untuk pernyataan tidak. Sedangkan untuk pernyataan negatife diberi skor sebaliknya yaitu untuk skor 1 untuk pernyataan sangat, 2 untuk pernyataan sedikit, 3 untuk pernyataan biasa saja dan 4 untuk pernyataan sangat. Skor rata-rata respon siswa dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.

Skor rata-rata =

Keterangan:

Fi = banyak siswa yang menjawab pilihan A

n1= bobot skor pilihan A

f2 = banyak siswa yang menjawab pilihan B

n2 = bobot skor pilihan B

f3 = banyak siswa yang menjawan pilihan C

n3 = bobot skor pilihan C

f4 = banyak siswa yang menjawab pilihan D

n4 = bobot skor pilihan D

N = jumlah siswa yang memberikan respon terhadap pembelajaran relasi dan fungsi dengan menngunaka peta konsep.

Kriteria skor rata-rata untuk respon siswa adalah sebagai berikut:

3 < skor rata-rata  4 = sangat positif

2 < skor rata-rata 3 = positif

1 < skor rata-rata  2 = cukup positif

0 < skor rata-rata  1 = negative

5.      Data ketuntasan hasil belajar

Data hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan ketuntasan hasil belajar siswa. Data post-test dinalisis untuk mendeskripsikan ketuntasan hasil belajar siswa. Seorang siswa dikatakan tuntas belajar bila memiliki daya serap pling sedikit 60%. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal tercapai bila paling sedikit 80% siswa dikelas tersebut telah tuntas belajar.[23]

Data dari hasil tes yang terkumpul selanjutnya diolah dengan menggunakan statistik uji-t yaitu:

t =

keterangan:

= skor rata-rata siswa

= 60 (kritria ketuntasan minimal)

s   = simpangan baku

n  = banyak sampel          

hipotesis yang akan di uji adalah:

Ho : µ1 = µ2  penggunaan peta konsep pada materi relasi dan fungsi belum mencapai  ketuntasan belajar.

H1 : µ1 2  penggunaan peta konsep pada materi relasi dan fungsi mencapai ketuntasan belajar.

Berdasarkan perumusan hipotesis di atas, maka uji statistic yang digunakan adalah uji statistik-t pihak kanan. Kriteria pengujian didapat dari daftar distribusi t dengan dk = (n-1) da peluang (1-α). Tolak Ho jika t t1- α dan terima Ho dalam hal lainya.[24]



[1] Antonius Cahya Prihandoko, Memahami Konsep Matematiaka Secara Benar Dan Menyajikannya Denagn Benar (Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan, 2006), h.1
[2] http://digilip.uinsby.ac.id/8737/bab%201.pdf . diakses pada tanggal 20 November 2015.
[3] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (kencana, 2009), h. 158.
[4] Dahar,R. W, teori-teori belajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), h. 149
[5] Darianto, kamus lengkap bahasa Indonesia, (Surabaya, 1998), hal. 23
[6] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Hal. 1198
[7] Ismi Septiana, Keektifitas Penggunaan Media Peta Konsep Pohon Jaringan Pada Pembelajaran Cerpen Dikelas X SMA Negeri 1 Monjotengah Kabupaten Wonosobo, Skipsi’ (Universitas Yokyakarta, 2011) Hal. 13,  Diakses Pada Tanggal 15 Januari 2016
[8] Rahmayanti, pembelajaran fungsi dengan menggunakan peta konsep di kelas VII SMP Negeri 1 Darul Imarah, skripsi, (Banda Aceh: universitas institute agama islam negeri ar-raniry, 2009), hal. 7
[9] Trianto, Mendesain Model…, hal.158
[10] Dahar, R.W, Teori-Teori Belajar, (Jakarta: Erlangga, 1989), Hal.122
[11] Ismi Septiana, Keektifitas Penggunaan…, hal. 19
 
[12] Dahar, R. W, teori-teori…, hal 126
[13] Ngalim Purwanto, Ilmu pendidikan teoristik dan praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 45
[14] Wina Sunjaya, perencanaan dan disain Sistem pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2008), hal. 126
[15] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: remaja Rosdakarya, 2009), hal 22               
[16] Syaiful Sagala, Konsep dan makna pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal.71
[17] Risnawati, Strategi Pembelajaran Matematika, (pekanbaru: Suska Pres, 2008), hal 13
[18] Matematika, Buku Guru/Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Edisi Revisi.( Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.) hal. 213
[19] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 108
 
[20] Sudjana. Metode statiska.(Bandung:Tarsito)2005. Hal 67
[21] Anselm Strauss dan Juliet Corbin. Dasar-Dasar Penelitaian Kualitatif, (Pustaka Pelajar Ofset: 2003), hal. 243
[22] Sukardi, Metodelogi penelitian; kompetensi dan prakteknya, (Jakarta: PT. Bumi  Aksara. 2004), hal. 147
[23] Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik dan Implimentasi, (Bandung: Rosda karya), hal. 99
[24] Mulyasa, Kurikulum Berbasis …, hal. 24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar