Nama : Mutia Rahmi
Nim :261324557
Unit :1(satu)
PENGGUNAAN PETA KONSEP UNTUK
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP KONSEP PADA MATERI RELASI DAN FUNGSI
A.
Latar Belakang
Matematika merupakan ilmu pengetahuan
yang memiliki peranan penting bagi kemajuan teknologi dewasa ini. Oleh sebab
itu, matematika perlu dipelajari siswa sejak dari sekolah dasar sampai ke
perguruan tinggi. Sebagai suatu ilmu pengetahuan matematika bertujuan melatih
manusia berfikir logis, kritis, dan bertanggung jawab. Memandang arti penting
matematika maka sudah selayaknya jika setiap siswa harus memiliki kemampuan
untuk menguasai matematika.
Matematika sering dipandang sebagai alat
untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Oleh karena itu penguasaan terhadap
konsep matematika mutlak diperlukan dan konsep-konsep matematika harus dipahami
dengan betul dan benar sejak
dini. Hal ini karena konsep-konsep dalam matematika merupakan suatu rangkaian
sebab akibat. Suatu konsep disusun berdasarkan konse-konsep sebelumnya, dan
akan menjadi dasar bagi konsep-konsep selanjutnya, sehingga pemahaman yang
salah terhadap suatu konsep, akan berakibat pada kesalahan pemahaman terhadap
konsep-konsep selanjutnya.[1]
Oleh karena itu pemahaman konsep dasar sangat diperlukan sebelum berlanjut ke konsep
berikutnya.
Selama ini
matematika yang diajarkan di sekolah-sekolah lebih mengedepankan terori-teori
yang kadang sulit untuk diaplikasikan oleh siswa dalam kehidupan nyata. Pada
umunya siswa hanya mampu menyelesaikan masalah matematika saja tanpa memhami
aplikasinya. Akibatnya, siswa sulit memahami matematika.[2]
Hal ini terjadi karena karena siswa kurang memhami konsep dalam matematika.
Oleh karenanya Penekanan utama pembelajaran matematika yang baik adalah
bagaimana agar siswa mengerti atau memahami konsep matemtika dengan baik.
Sebuah pembelajaran melalui Peta Konsep ditawarkan
sebagai salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep siswa.
Peta konsep merupakan ilustrsi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana
sebuah konsep tunggal dihubungkan dengan konsep-konsep lain pada katgori yang
sama.[3]
Dengan kata yang lain, peta konsep merupakan suatu gambar, skema atau bagan
yang tersusun atas konsep-konsep
yang berkaitan. Konteks Peta Konsep dalam pejaran matematika berarti menorganisir suatu rumus dengan rumus yang lain. Penjelasan
materi melalui peta konsep akan memudahkan siswa dalam memahami materi karena
disajikan secara sistematis berdasarkan aturan-aturan konsep tertentu. Dengan
mengenal konsep dan memahami materi siswa akan mudah mengenali variasi detil dari konsep tersebut, sehingga
memudahkannya mengkategorisasi pengetahuan serta siswa dapat termotivasi untuk
belajar. Dengan demikian, diharapakan hasil belajar siswa lebih
meningkat.
Menurut Dahar, Peta Konsep (Consept
Mapping) memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Belajar bermakna
adalah suatu proses belajar di mana siswa dapat menghubungkan informasi baru
dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Jadi supaya belajar bermakna, maka
konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur
kognitif siswa. Novak dan Govin mngemukakan bahwa cara untuk mengetahui
konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajr bermakna berlangsung
dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.[4]
Berdasarkan latar belakng di atas, maka
penulis mencoba menerapkan peta konsep untuk meningkatkan pemahaman siswa
terhadap konsep trigonometri.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalah di atas maka penulis dapat merumuskan
permasalahn sebagai berikut: “bagaimana penggunaan peta konsep untuk
meningkatkan pemahaman terhadap konsep pada materi relasi dan fungsi?
Berasrkan rumusan masalah di atas, maka diperoleh pertanyaan penelitiannya sebagai
berikut?
1.
Bagaimana aktivitas siswa selama
mengikuti pembelajaran dengan menggunakan peta konsep pada relasi dan fungsi?
2.
Bagaiman respon siswa terhadap
pembelajaran dengan menggunakan peta konsep pada materi relasi dan fungsi?
3.
Bagaimana hasil belajar siswa pada
materi relasi dan fungsi dengan menggunakan peta konsep?
C.
Tujuan penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1.
Untuk mengetahui aktivitas siswa materi
relasi dan fungsi selama mengikuti pembelajaran dengan menggunakan peta konsep.
2.
Untuk mengetahui respon siswa terhadap
pembelajaran dengan menggunakan peta konsep pada materi relasi dan fungsi.
3.
Untuk mengetahui ketuntasan belajar
siswa yang dicapai dengan menggunakan peta konsep pada materi relasi dan fungsi.
D.
Manfaat Penelitian
Manfaat
penelitian ini adalah:
1.
Membantu siswa dalam memahami materi
relasi dan fungsi dan dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan relasi
dan fungsi.
2.
Bagi peniliti, diharapkan dapat memahami
dan memiliki kemampuan yang luas tentang metode/strategi pembelajaran khuusnya
peta konsep sehingga memiliki keterampilan untuk menerapkannya.
1.
Pengunaan
Penggunaan
adalah perbuatan dalam mempergunakan sesuatu.[5]
Penggunaan yang
dimaksudkan dalam penelitian ini
adalah menggunakan peta konsep pada materi relasi dan fungsi.
2.
Peta konsep
Menurut suparno, peta konsep merupakan
suatu bagan stematik untuk menggambarkan suatu pengertin konseptual seseorang
dalam suatu rangkaian pernyataan. Pada peneliti ini, peneliti akan membahas
peta konsep pada materi relasi dan fungsi.
3.
Meningkatkan
Meningkatkan adalah menaikkan derajat atau taraf. Dalam
penelitian ini yang menaikkan yang dimaksud adalah meningkatkan pemahaman
konsep relasi dan fungsi.[6]
4.
Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep adalah kemampuan siswa
dalam menerjemahkan, menafsirkan dan menyimpulkan suatu konsep berdasarkan
pembentukan
pengetahuannya
sendiri, bukan sekedar menghafal, selain itu siswa dapat menemukan dan
menjelaskan kaitan suatu konsep dengan konsep lainnya.
Relasi
Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah hubungan yang memasangkan
anggota-anggota himpunan A dengan anggota-anggota himpunan B.
fungsi
Fungsi
f dari A ke B adalah suatu aturan pengaitan yang memasangkan setiap anggota
himpunan A dengan tepat satu anggota himpunan B. pada penelitian ini yang
menjadi sub materi adalah konsep relasi dan fungsi
F.
Hipotesis
Berdasarkan permasalahan di atas maka
hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
Ho
: µ1 = µ2 hasil
belajar siswa dengan penggunaan peta konsep pada materi relasi dan fungsi tidak
lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan peta
konsep
H1
: µ1 >
µ2 hasil belajar siswa dengan penggunaan
peta konsep pada materi relasi dan fungsi lebih baik dibandingkan dengan hasil
belajar siswa yang tidak menggunakan peta konsep
Bab 11
Pembahasan
A.
Peta konsep
1.
Pengertian peta konsep
Peta konsep merupakan suatu alat (dapat
berupa skema) yang digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara
konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan hubungan
dua konsep atau lebih yang dihubungkan oleh tanda penghubung dalam bentuknya yang
paling sederhana, suatu peta konsep terdiri atas dua konsep yang dihubungkan
oleh tanda penghubung untuk membentuk suatu proposisi.[7] Menurut
Suparno, peta konsep merupakan suatu bagan sistematik untuk menggambarkan suatu
pengertian konseptual seseorang dalam suatu rangkaian pernyataan.[8] Oleh
kerena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung bila konsep-konsep baru
dikaitkan pada konsep yang lebih ingklusif. Sedangkan menurut Trianto, peta
konsep adalah ilustrasi konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep
tunggal dihubungkan pada di hubungkan pada konsep-konsep yang lain pada
kategori yang sama.[9]
Peta konsep bukan hanya menggambarkan konsep-konsep yang penting, melainkan
juga menghubungkan antara konsep-konsep. Dalam menghubungkan konsep-konsep
tersebut dapat digunakan dua prinsip yaitu prinsip diferensiasi progresif dan
prinsip penyesuaian integrasif.
Menurut ausubel diferensiasi progresif
adalah suatu prinsip penyajian materi dari yang mudah dipahami ke materi yang
lebih sulit dipahami. Sedangkan penyesuian integrasif adalah suatu prinsip
mengintegrasikan informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari
sebelumnya.
2.
Ciri-ciri peta konsep
Sebagaimana
strategi-strategi atau metode-metode lain, peta konsep juga memiliki ciri-ciri
tersendiri yaitu,
a.
Peta konsep adalah suatu cara untuk
memperlihatkan konsep-konsep dan proposi-proposi suatu bidang studi.
b.
Peta konsep merupakan suatu gambar dua
dimensi dari suatu bidang studi.
c.
Memperlihatkan hubungan antara
konsep-konsep.
d.
Hirarki, yaitu konsep yang lebih
ingklusih berada pada bagian yang paling atas dari peta, makin ke bawah konsep
diurutkan makin menjadi lebih krusus.[10]
3.
Tujuan peta konsep
Tujuan
penggunaan peta konsep dalam proses pembelajaran, yaitu:
a.
Menyelidiki apa yang telah diketahui
siswa.
b.
Membantu siswa mempelajari cara belajar
bermakna.
c.
Mengungkapkan konsepsi salah
(misconsepsi) yang terjadi apada siswa.
d.
Sebagai alat penilaian (evaluasi).
4.
Kelebihan dan kekurangan peta konsep
a. Kelebihan
peta konsep
Peta konsep dalam pembelajaran dapat memberikan
manfaat yang beragam, terutama, manfaat peta konsep tersebut adalah:
1)
Dapat meningkatkan pemahaman siswa,
karena peta konsep merupakan cara belajar yang mengembangkan proses belajar
bermakna,2) Dapat meningkatkan keattifan dan kreatifitas berfikir siswa,
3) Akan memudahkan siswa dalam belajar.
b. Kelemahan
peta konsep
Beberapa kelemahan atau hambatan yang mungkin
dialami siswa dalam menyusun peta konsep, yaitu:
1)
Dalam menyusun peta konsep membutuhkan
waktu yang cukup lama, sedangkan waktu yang tersedia dalam kelas sangat
terbatas.2) Siswa sulit menentukan konsep-konsep yang terdapat dalam materi yang dipelajari.
3) Siswa sulit menghubungkan konsep yang satu dengan konsep yang lain.[11]
5.
Cara membuat peta konsep
Penyusunan peta konsep merupakan
pencerminan dari struktur konseptual yang dimiliki oleh seseorang. Oleh sebab
itu peta konsep yang dibuat oleh seseorang dengan orang lain. Hal ini mungkin
disebabkan oleh cara pandangannya tentang suatu konsep yang berbeda sehingga
dalam penyusunan peta konsep berbeda. Menyusun peta konsep dapat dilakukan
dengan mengikuti beberapa langkah yang disarankan oleh Novak sebagai berikut:
a. Pilih
suatu bahan bacaan,
b. Tentukan
konsep utama,
c. Urutkan
konsep-konsep tersebut dari yang paling esklusif ke paling inklusif,
d. Hubungkan
konsep-konsep tersbeut dengan kata penghubung tertentu untuk membentuk
proposisi,
e. Jika
peta konsp sudah selesai, perhatikan kembali letak konsep-konsepnya dan kalau
perlu siperbaiki/ disusun kembali agar menjadi lebih baik dan berarti.[12]
B.
Pemahaman Konsep
Pemahaman berasal dari kata dasar
“paham” yang berarti mengerti benar. Pemahaman mempunyai kedudukan yang lebih
tinggi dari pengetahuan. Kemampuan pemahaman (komprehention) adalah kemampuan
yang menuntut siswa agar mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta
yang diketahuinya.[13]
Pemahaman dapat pula diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi bahan yang
dipelajari. pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta akan tetapi berkenaan dengan kemampuan , menerangkan,
menafsirkan, atau kemampuan menangkap makna arti sebuah konsep.[14]
seseorang dapat dikatakan faham terhadap suatu hal apabila orang tersebut
mengerti benar dan mampu menjelaskan suatu hal yang difahaminya.
Matematika merupakan bagian dari bidang
sains, yang menuntut kompetensi belajar pada ranah pemahaman. Benjamin S. Bloom
menyatakan bahwa hasil belajar terbagi dalam tiga ranah yaitu: ranah kognitif,
ranah efektif, dan ranah psikomotor.[15]
Hasil belajar dalam ranah kognitif yang salah satunya yaitu pemahaman konsep.
kemampuan pemahaman terhadap konsep matematika merupakan bagian yang penting
dalam proses pembelajaran dan memcahakan konsep matematika menjadi landasan untuk
berfikir dalam menyelesaikan persoalan matematika.
Proses pembelajaran yang bermutu dan
berkualitas ditandai dengan hasil belajar yang tinggi, sehingga menuntut kemampuan
pemahaman konsep matematika yang baik. Menurut Syaipul konsep merupakan buah
pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi
sehingga melahairkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum dan teori.[16] Kegunaan
konsep untuk menjelaskan dan meramalkan. Jadi pemahaman konsep matematika
adalah kemampuan untuk menjelaskan suatu situasi atau tindakan dalam matematika.
Pemahamn konsep adalah salah satu tujuan
yang sangat mendasar dari proses belajar siswa. Dalm peraturan menteri
pendidikan Nasional RI nomor 22 tahun 2006, dijelaskan bahwa tujuan
pembelajaran matematika disekolah adalah agar siswa memiliki kemampuan
diantaranya adalah memahammi konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar
konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luas, akuarat efisien
dan tepat dalam pemecahan masalah.[17]
Jadi pemahaman konsep matematika haruslah dimiliki oleh setiap siswa karena
merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika.
Pemahaman konsep matematika adalah
kemampuan siswa dalam menerjemahkan, menafsirkan dan menyimpulkan suatu konsep
matematika berdasarkan pembentukan pengetahuannya sendiri, bukan sekedar
menghafal. Selain itu siswa dapat menemukan dan menjelaskan kaitan suatu konsep
dengan konsep lainnya.
C.
Tinjauan materi relasi dan fungsi
1.
Definisi relasi
Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah hubungan
yang memasangkan anggota-anggota himpunan A dengan anggota-anggota himpunan B.
Relasi dapat
dinyatakan dengan:
·
Diagram panah
·
Diagram cartesius
·
Pasangan berurutan
contoh :
Pengambilan data mengenai “pelajaran yang disukai” pada empat siswa kelas x diperoleh
seperti pada tabel berikut:
Penyelesaian dengan diagram panah :
Penyelesaian dengan diagram
cartesius
Penyelesaian dengan himpunan
pasangan berurutan
Himpunan pasangan berurutan dari data di atas adalah
{(Buyung, IPS), (Buyung, kesenian), (Doni,
keterampilan), (Doni, olahraga), (Vita, IPA), (Putri, matematika), (Putri,
bahasa Inggris)}.
2. Sifat-sifat relasi
a.
Relasi bersifat Refleksif
Misalkan R sebuah
relasi yang didefinisikan pada himpunan P. relasi R dikatakan berifat reflektif
jika untuk setiap p ∈ P berlaku (p, p) ∈ R.
Contoh :
Diketahui R relasi
pada himpunan A = {1,2,3,4}, dan dinyatakan dengan pasangan terurut: R =
{(1,1), (1,2), (1,3), (2,1), (2,2), (2,3), (3,1), (3,2),
(3,3),(1,4),(2,4),(3,4)}. Dari relasi ini diperoleh bahwa:
♦ Domain R adalah: {1, 2, 3} dan range R adalah: {1, 2, 3, 4}.
♦ 1 ∈ domain R berpasangan
dengan dirinya sendiri atau 1 berpasangan dengan 1. Pasangan terurut (1,1) ∈ R.
♦ 2 ∈ domain R berpasangan dengan dirinya sendiri atau 2 berpasangan
dengan 2. Pasangan terurut (2,2) ∈ R.
♦ 3 ∈ domain R berpasangan
dengan dirinya sendiri atau 3 berpasangan dengan 3. Pasangan terurut (3,3) ∈ R. Karena seluruh domain R berpasangan
dengan dirinya sendiri, maka relasi R bersifat refleksif
b.
Relasi Bersifat
Simetris
Misalkan R sebuah
relasi pada himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat simetris, apabila untuk
setiap (x, y) ∈ R berlaku (y, x) ∈ R.
Contoh:
Diberikan himpunan P =
{1, 2, 3}. Didefinisikan relasi R pada himpunan P dengan R = {(1,1) , (1,2),
(1,3), (2,2), (2,1), (3,1), (3,3)}. Relasi R bersifat simetris sebab untuk
setiap (x,y) ∈ R, berlaku (y,x) ∈ R.
c.
Relasi Bersifat Transitif
Misalkan R sebuah
relasi pada himpunan P. Relasi R bersifat transitif apabila untuk setiap (x,y) ∈ R dan (y,z) ∈ R maka berlaku
berlaku (x,z) ∈ R.
Contoh :
Diberikan himpunan p =
{1, 2, 3}. Didefinisikan relasi pada
himpunan P dengan hasil relasi adalah
himpunan R = {(1,1), (1,2), (2,2),
(2,1), (3,3)}. Relasi R tersebut bersifat
transitif sebab (x,y) ∈ R dan (y,z) ∈ R
maka berlaku (x,z) ∈ R.
d.
Relasi Bersifat Antisimetris
Misalkan R sebuah
relasi pada sebuah himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat antisimetris,
apabila untuk setiap (x,y) ∈ R dan (y,x) ∈ R berlaku x = y.
Contoh :
Diberikan himpunan C =
{2,4,5}. Didefinisikan relasi R pada himpunan C dengan R = { (a,b) ∈ a kelipatan b, a,b ∈ C} sehingga diperoleh
R = {(2,2), (4,4), (5,5), (4,2)}. Relasi R tersebut bersifat antisimetris.
|
Definisi
|
|
Misalkan R sebuah
relasi pada himpunan P. Relasi R dikatakan relasi ekivalensi jika dan hanya
jika relasi R memenuhi sifat reflektif, simetris, dan transitif.
|
Contoh
Diberikan himpunan P = {1, 2, 3}. Didefinisikan relasi pada himpunan P dengan R = {(1,1), (1,2), (2,2), (2,1), (3,3)}.
Relasi R tersebut bersifat reflektif, simetris
dan transitif. Oleh karena itu relasi R merupakan relasi ekivalensi.
2.
Definisi Fungsi Atau
Pemetaan
Misalkan
A dan B himpunan. Fungsi f dari A ke B adalah suatu aturan pengaitan yang
memasangkan setiap anggota himpunan A dengan tepat satu anggota himpunan B.
Contoh
Berdasarkan
dibawah, setiap anak anggota P dipasangkan dengan tepat satu golongan daerah anggota Q. Bentuk relasi seperti ini disebut Fungsi atau Pemetaan

Notasi Fungsi
Diagram di atas menggambarkan fungsi yang memetakan x anggota
himpunan A ke y anggota himpunan B. Notasi fungsinya dapat ditulis sebagai
berikut :
¢ f : x y atau f : x
¢ dibaca: fungsi f memetakan x anggota A ke y anggota B
¢ Himpunan A disebut domain (daerah asal).
¢ Himpunan B disebut kodomain (daerah kawan).
|
|
|
Relasi
|
|
Fungsi
|
BAB
III
METODELOGI
PENELITIAN
A. Rancangan
penelitian
Setiap penelitia memerlukan metode penelitian dan
teknik pengumpulan data tertentu sesuai dengan masalah yang akan ditelti. Maka
rancangan yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
eksperimen. Dalam rancangan penelitian ini ada dua kelompok objek, yaitu kelas
eskperimen dan kelas control. Selanjutnya, pada kelas eksperimen diajarkan
dengan menggunakan peta konsep sedangkan untuk kelas control diajarkan tanpa
menggunakan peta konsep.
|
Subjek
|
Pre-test
|
Perlakuan
|
Post-test
|
|
Kelas
eksperimen
|
Xe
|
A
|
Ye
|
|
Kelas
kontrol
|
Xk
|
B
|
Yk
|
Keterangan:
Xe =
skor pre-test untuk kelas eksperimen
Xk =
skor pre-test untuk kelas kontrol
Ye =
skor post-test untuk kelas eksperimen
Yk =
skor post-test untuk kelas kontrol
A =
pembelajaran dengan menggunakan peta konsep
B = pembelajaran
dengan tanpa menggunakan peta konsep
Populasi adalah kesuluruhan objek
penelitian. Sedangkan sampel adalah sebagian populasi yang diteliti.[19]
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas X
Favorite School yang berjumlah 120 siswa, yang terdiri dari 3 kelas parallel
yaitu kelas XA, XB, XC, XD. untuk
memperoleh keterangan tentang populasi, penulis tidak mengamati seluruh populasi
melainkan sebagian saja sebagai sampel penelitian.
Oleh sebab itu, dilakukan pengambilan
sampel secara random dan terpilih kelas XA yang berjumlah 30 orang
sebagai kelas eksperimen dan kelas XC yang berjumlah 30 orang
sebagai kelas control.
C.
Instrument Penelitian
Instrument yang dimaksud dalam
penelitian ini yaitu berupa rancana pelaksanaan pembelajaran (RPP), LKS, soal
tes, angket dan. Untuk soal tes penulis berpodoman pada buku kelas X.
1.
tes
Tes yaitu sejumlah soal penulis buat
sesuai dengan kurikulum dan buku yang dijadikan sebagai data tertulis. Dalam
hal ini digunakan LKS sebagai latihan kepada siswa dan test yang digunakan
adalah pre-test (tes awal) dan pos-test (tes akhir). Jumlah soal untuk LKS
berjumlah 4 (empat), untuk test awal berjumlah 3 (tiga) soal dan untuk test
akhir berjumlah 5 (lima). Tes awal diberikan sebelum berlangsungnya
pembelajaran yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimilii siswa
sebelum adanya perlakuan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas
control berdasarkan materi relasi
dan fungsi. Tes akhir diberikan setelah pembelajaran berlangsung yang bertujuan
melihat perbandingan antara skor tes akhir pada kedua kelas yaitu kelas
eksperimen dan kelas kontrol.
2.
Angket
Angket diberikan kepada siswa kelas
eksperimen pada hari terakhir penelitian setelah berlangsung pembelajaran
seluruhnya, dengan tujuan untuk memperoleh informasi/masukan dari para siswa
terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan peta konsep.
E.
Teknik Analisis Data
Tahap
analisis data meruapakan tahap yang paling penting dalam suatu penelitian,
karena pada tahap ini akan dideskripsikan hasil dari penelitian. Jika data
tersebut dalam bentuk kuantiataif yan ditransfer dalam angka maka cara
mendeskripsikan data dapat dilakukan dengan mengunakan statistik dskriptif.
Menguji hipotesi yangdirumuskan, yaitu tentang penggunaan peta konsep untuk
meninggkatkan pemahaman siswa terhadap materi geometri dapa dilakukan dengan
statistic uji-t.
a.
Tentukan rentang (R) adalah data terbesar
dikurangi data terkecil.
b.
Tentukan banyak kelas interval dengan
mengunakan aturan strurges yaitu
K
= 1+3,33 log n, dimana n menyatakan banyak data.
c.
Tentukan panjang kelas interval (p)
Setelah membuat table frekuensi, selanjutnya
di hitung:
d.
Rata-rata dengan rumus:[20]
X
=
e.
Uji normlitas data dengan menggunakan
rumu
X2
f.
Untuk pengujian homogen varians
F
g.
Simpangan baku dengan menggunakan rumus:
S2
=
h.
Untuk menguji hipotesis yang telah
dirumuskan yaitu dengan menggunakan statistic uji-t, digunakan rumus sebagai
berikut:
t
=
dengan
s2
=
keterangan:
x1
= mean kelompok eskperimen
x2
= mean kelompok kontrol
n1
= jumlah subjek kelompok eksperimen
n2
= jumlah subjek kelompok kontrol
2.
Data pre-test
Statistic
yang diperlukan sehubungan dengan uji-t dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.
Tentukan rentang (R) adalah data terbesar
dikurangi data terkecil.
b.
Tentukan banyak kelas interval dengan
menggunakan aturan sturges yaitu k = 1 + 3,33 log n, dimana n menyatakan banyak
data.
c.
Tentukan panjang kelas interval
(p)
Setelah membuat table frekuensi,
selanjutnya di hitung:
Rata-rata dengan rumus:
X
=
d.
Simpangan baku dengan menggunakan rumus:
S2
=
3.
Data post-test
Sebelum menguji hipotesis penelitian
terlebih dahulu dilakukan pengolahan data post-test untuk memperoleh
nilai-nilai statistik yang diperlukan seperti rata-rata dan standar deviasi.
Selajutnya diuji syarat-syarat dari uji-t yaitu homogenitas varians dan
normalitas data.
Statistic yang diperlukan sehubungan
dengan penggunaan uji-t dari data post-test yaitu:
t
=
untuk statistic uji-t
di atas menggunakan taraf signifikan α = 0,05 dengan derajat kebebasan (dk) =
(n1+n2 -2). Kriteria pengujian adaah terima Ho jika t < t 1-α dan
tolak Ho jika t mempunyai harga-harga lain.[21]
Ho
: µ1 = µ2 penggunaan peta konsep pada materi relasi dan fungsi tidak lebih baik
dibandingkan dengan tidak menggunakan peta konsep
Ho
: µ1 > µ2 penggunaan peta konsep pada materi relasi dan fungsi lebih baik
dibandingkan dengan tidak menggunakan peta konsep
4.
Data respon siswa
Untuk
menentukan respon siswa akan dianalisis dengan menghitung rata-rata keseluruhan
skor yang telah dibuat dengan model skala Likert. Dalam menskor skala kategori
Likert, jawaban diberi bobot atau disamakan denga nilai kuantitatif 4,3,2,1
untuk pertanyaan positif dan 1,2,3,4 untuk pertanyaan bersifat negatife.[22]
Kuisioner untuk pertanyaan positif maka diberi skor 4 untuk pertanyaan sangat,
3 untuk menyatakan biasa saja, 2 untuk pernyataan sedikit dan 1 untuk
pernyataan tidak. Sedangkan untuk pernyataan negatife diberi skor sebaliknya
yaitu untuk skor 1 untuk pernyataan sangat, 2 untuk pernyataan sedikit, 3 untuk
pernyataan biasa saja dan 4 untuk pernyataan sangat. Skor rata-rata respon
siswa dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
Skor
rata-rata =
Keterangan:
Fi
= banyak siswa yang menjawab pilihan A
n1=
bobot skor pilihan A
f2
= banyak siswa yang menjawab pilihan B
n2
= bobot skor pilihan B
f3
= banyak siswa yang menjawan pilihan C
n3
= bobot skor pilihan C
f4
= banyak siswa yang menjawab pilihan D
n4
= bobot skor pilihan D
N
= jumlah siswa yang memberikan respon terhadap pembelajaran relasi dan fungsi
dengan menngunaka peta konsep.
Kriteria
skor rata-rata untuk respon siswa adalah sebagai berikut:
3
< skor rata-rata
4
= sangat positif
2
< skor rata-rata
3 = positif
1
< skor rata-rata
2
= cukup positif
0
< skor rata-rata
1
= negative
5.
Data ketuntasan hasil belajar
Data
hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif bertujuan untuk
mendeskripsikan ketuntasan hasil belajar siswa. Data post-test dinalisis untuk
mendeskripsikan ketuntasan hasil belajar siswa. Seorang siswa dikatakan tuntas
belajar bila memiliki daya serap pling sedikit 60%. Sedangkan ketuntasan
belajar secara klasikal tercapai bila paling sedikit 80% siswa dikelas tersebut
telah tuntas belajar.[23]
Data
dari hasil tes yang terkumpul selanjutnya diolah dengan menggunakan statistik
uji-t yaitu:
t
=
keterangan:
s = simpangan baku
n = banyak sampel
hipotesis
yang akan di uji adalah:
Ho
: µ1 = µ2 penggunaan
peta konsep pada materi relasi dan fungsi belum mencapai ketuntasan belajar.
H1
: µ1 >µ2 penggunaan
peta konsep pada materi relasi dan fungsi mencapai ketuntasan belajar.
Berdasarkan
perumusan hipotesis di atas, maka uji statistic yang digunakan adalah uji
statistik-t pihak kanan. Kriteria pengujian didapat dari daftar distribusi t
dengan dk = (n-1) da peluang (1-α). Tolak Ho jika t
t1- α dan terima Ho dalam hal
lainya.[24]
[1]
Antonius Cahya
Prihandoko, Memahami Konsep Matematiaka Secara Benar Dan Menyajikannya
Denagn Benar (Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Direktorat Ketenagaan, 2006), h.1
[3] Trianto, Mendesain
Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (kencana, 2009), h. 158.
[4]
Dahar,R. W, teori-teori
belajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), h. 149
[5]
Darianto, kamus lengkap bahasa Indonesia,
(Surabaya, 1998), hal. 23
[6]
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2002), Hal. 1198
[7]
Ismi Septiana, Keektifitas Penggunaan Media Peta Konsep
Pohon Jaringan Pada Pembelajaran Cerpen Dikelas X SMA Negeri 1 Monjotengah
Kabupaten Wonosobo, Skipsi’ (Universitas Yokyakarta, 2011) Hal. 13, Diakses Pada Tanggal 15 Januari 2016
[8] Rahmayanti, pembelajaran fungsi dengan menggunakan peta konsep di kelas VII SMP
Negeri 1 Darul Imarah, skripsi, (Banda Aceh: universitas institute agama
islam negeri ar-raniry, 2009), hal. 7
[9]
Trianto, Mendesain
Model…, hal.158
[10]
Dahar, R.W, Teori-Teori Belajar, (Jakarta: Erlangga,
1989), Hal.122
[11]
Ismi Septiana, Keektifitas Penggunaan…, hal. 19
[12]
Dahar, R. W, teori-teori…, hal 126
[13] Ngalim Purwanto, Ilmu pendidikan teoristik dan praktis,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 45
[14] Wina Sunjaya, perencanaan dan disain Sistem pembelajaran,
(Jakarta: Kencana, 2008), hal. 126
[15] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,
(Bandung: remaja Rosdakarya, 2009), hal 22
[16]
Syaiful Sagala, Konsep dan makna pembelajaran, (Bandung:
Alfabeta, 2010), hal.71
[17] Risnawati, Strategi Pembelajaran
Matematika, (pekanbaru: Suska Pres, 2008), hal 13
[18]
Matematika, Buku Guru/Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Edisi Revisi.( Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
2014.) hal. 213
[19]
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 108
[20]
Sudjana. Metode statiska.(Bandung:Tarsito)2005.
Hal 67
[21]
Anselm Strauss dan Juliet
Corbin. Dasar-Dasar Penelitaian
Kualitatif, (Pustaka Pelajar Ofset: 2003), hal. 243
[22]
Sukardi, Metodelogi penelitian; kompetensi dan
prakteknya, (Jakarta: PT. Bumi
Aksara. 2004), hal. 147
[23] Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik dan Implimentasi,
(Bandung: Rosda karya), hal. 99
[24] Mulyasa, Kurikulum Berbasis …, hal. 24





Tidak ada komentar:
Posting Komentar